Selasa, 24 Februari 2009

Hari ini, Hari terakhirku menjadi Karyawan.

1. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, 2. dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,3. yang memberatkan punggungmu 4. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu, 5. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,6. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, 7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, 8. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (QS: 94: 1-8)

Pada akhirnya saya memiliki keberanian untuk membuat pilihan untuk keluar dari pekerjaan dan berhenti menjadi karyawan. Hari ini 25 Februari 2009 secara resmi saya telah berhenti menjadi karyawan, ini momentum dan menjadi titik balik dari kehidupan saya baru. Karena berusaha mempunyai keberanian ketika betul-betul sudah dipuncak dengan segala fasilitas yang sebentar lagi akan hilang.
18 September 2008 adalah awal dari segalanya ketika pertyama kali masuk dikomunitas TDA, kemudian masuk di TDA Joglo dan di TDA Semarang.
Dari Virus yang bernama TDA inilah saya mulai berfikir untuk keluar dari pekerjaan saya dan Full menjadi TDA. Virus ini betul-betul merasuk dalam diri saya dan keluarga saya, meskipun sejujurnya sudah sejak 4 Tahun yang lalu saya telah memiliki usaha sendiri Jasa pengiriman TREX, tapi masih takut untuk betul-betul total. Karena sebenarnya yang sudah betul-betul TDA adalah Istri saya , karena dialah yang pusing-pusing ketika akhir bulan harus mikir gaji karyawan, membayar Vendor yang jatuh tempo..dan sebagainya.
Ketika awal perkenalan dengan TDA pun saya masih "nervous" kenalan di milis sekali terus tiarap hanya menjadi object penerima email.
Akhirnya awal oktober sudah bulat tekad saya untuk keluar dari pekerjaan dan ternyata terealisasi Bulan Januari 2009 pengunduran diri saya, itu pun masih harus sabar menunggu sampai hari ini karena, mesti harus menunggu penganti saya...peralihan ini dan itu...tapi Alhamdulillah semua terlewati.

Kekuatan saya bertambah ketika hadir dipertemuan TDA Soloraya 18 Januari 2009, ketemu langsung dengan pendiri TDA Pak Haji Alay, Pak Hantiar, teman-teman Solo dan Jogja. "Saya bilang ke Istri "saya belum pernah menemukan Komunitas yang demikian positif yang semua orangnya berfikir postif seperti ini, tidak memandang curiga, tidak ada prasangka..semua begitu lepas" saya bilang ke istri lagi" kalau tidak terbentur aturan Hari senin besok saya keluar dari pekerjaan saya....

Akhirnya terima kasih kepada Istriku yang dengan Setia mensupport saya untuk bisa segera keluar dari pekerjaan. Terima kasih untuk Pak Haji Alay, Pak Hantiar, Pak Hadi, Pak Roni dan Pak Iim, (meskipun belum pernah ketemu) Pak Tito, Mbak Izha,Mas Adi, Pak Sakir, Mas Lutfi, Mas Andhika, Pak Bams, Pak Budi, Pak Harmanto.... dan semua teman TDA Joglo dan Semarang...yang turut memberikan semangat, akhirnya saya resmi keluar dari pekerjaan.



Kamis, 31 Juli 2008

Belajarlah...Nak, Raih Impian-impianmu


Hampir 3 pekan dia telah meninggalkan kami sekeluarga, meriah impian-impiannya, melanjutkan studinya di SMPIT Ickhsanul Fikri Magelang sebuah sekolah dengan menerapkan Boarding School. Awal pengambilan keputusan untuk dia tinggal di Asrama atau Pesantren, adalah keputusan yang sangat berat bagi kami sekeluarga, tapi dengan berbagai pertimbangan dan masukan-masukan akhirnya Azil sendirilah yang memutuskan untuk Sekolah dengan tinggal di Pesantren, Sejak 13 Juli kemarin dia telah memasuki dunianya yang baru, berkumpul dengan banyak teman yang sama sekali belum dia kenal, dari berbagai daerah dan beragam latar belakang.

Ahad 27 Juli kemarin adalah hari pertama setelah masuk pesantren Azil baru dijenguk, kami sekeluarga Bunda Lei, Inna, Omie dan tak ketinggalan Ichan turut serta menengok Kakaknya. Sedikit lebih kurus dari awal dia berangkat ke Magelang, dan biasa.......pertanyaan standart dari Bunda-nya “ Makanmu cukupkan Kak” Dia malah ketawa-ketawa....” Nggak usah dipikirkan bu” Disini semua santri nggak kurang Makan, bahkan banyak temanku yang “tukang makan seperti aku”, candanya menghibur bundanya......

Terus banyak ragam pertanyaan yang diajukan kami semua.....dari mulai pelajarannya, kegiatan harian....dst.

Aku tertegun sejenak sebelum pulang.....anakku sekarang lebih pendiam dan demikian Mandiri...sebelum pulang tidak lupa dia nitip salam buat guru-gurunya Di Sekolah Alam Ar Ridho, special buat bu Yusni. Dan satu hal yang tidak terlupa” entar kalau kesini lagi jangan lupa ya Nda Bawa Kering Tempe bikinan Uti, itu yang ada Teri plus kacangnya.... Belajar yang rajin ya nak ...raih impianmu

Bertindaklah


Ketika Anda memutuskan untuk menjalani impian-impian Anda, mendisiplinkan diri Anda, dan menjadi yang terbaik semampu Anda.

Berikanlah Ganjaran pada diri Anda karena telah melakukannya.

Jangan pernah berhenti. Apa pun yang terjadi, jangan sampai gagal- mundurlah, carilah, lihatlah impian anda, rasakanlah dan dengarkanlah. Bangunlah, atasilah dan get Online for life ! Impian Anda sedang menunggu Anda ...apa lagi yang Anda tunggu ?

(Bob Urichuck)

Bukan kritiknya yang penting, bukan pula orang yang menunjukkan bagaimana seseorang yang perkasa bisa jatuh, atau bagaimana si pelaku bisa melakukannya dengan lebih baik lagi. Pujian itu harus diberikan kepada orang yang benar-benar berada di arena, yang wajahnya kotor oleh debu dan keringat dan darah, yang telah bekerja membanting tulang, yang melakukan kesalahan dan jatuh lagi dan lagi, karena tidak ada usaha tanpa kesalahan dan kelemahan, tetapi yang benar benar berusaha keras melakukannya, yang mengetahui apa itu semangat yang menggelora dan mencurahkan tenaganya sehabis-habisnya, yang membaktikan dirinya untuk suatu tujuan yang bermanfaat, yang pada saat paling baik akhirnya tahu kemenangan dari prestasi yang tinggi dan pada saat paling buruk, jika ia gagal setidak-tidaknya menghadapi kegagalan dengan penuh keberanian, sehingga tempatnya tak akan pernah dihuni oleh jiwa-jiwa yang dingin dan penakut, yang tidak tahu apakah kemenangan atau kekalahan itu.

(Theodore Roosevelt)

Antara Bekerja dan Berusaha

Pendahuluan

Jika dikaji sebenarnya dalam hidup kita selama satu hari ada sekian
ketersediaan tenaga dan pikiran kita, Kita beri nama spot tenaga dan
pikiran. Sekarang diasumsikan kita dalam sehari memiliki 20 spot.

Kalau kita sudah bekerja selama beberapa tahun berarti pekerjaan tersebut
kita sudah kuasai benar, sehingga mungkin untuk pekerjaan hanya terpakai 5
spot, yang berarti kita punya 15 spot waktu kosong, dimana 10 spot untuk
keluarga berarti tinggal 5 spot kosong. Nah spot kosong ini yang kita
gunakan untuk mencari tambahan penghasilan, mungkin dengan membaca buku
"memulai usaha dari nol" (dapat dibeli di toko buku), browsing internet
untuk situs-situs yang berisi tentang usaha dan dagang ( kewirausahaan )
seperti www.eramuslim.com (rubrik konsultasi bisnis), www.bundainbiz.com ,
www.republika.co.id ( rubrik konsultasi bisnis ) dan lain-lain yang dapat
membantu kita mencari ide-ide bisnis untuk mengisi 5 spot ini...

Jika kita keluar dari pekerjaan dan pindah pekerjaan baru, berarti ada
dimungkinkan proses adaptasi yang memakan 15 spot sehari, yang berarti
mengurangi jatah untuk keluarga dan income tambahan.

Pilihan antara dua.... pilihan terserah kita.....

Jangan berhenti dari bekerja dari perusahaan dimana kita bekerja sekarang.
Karena jika anda berhenti dengan pesangon kecil, dan mulai usaha, apakah ada
yang menjamin usaha sukses ?

Lebih baik anda usaha sampingan, dimulai dengan modal kecil (sisihkan setiap
bulan dari Gaji) dan mulai beberapa bulan kemudian. Resiko lebih kecil,
apabila usaha gagal. Nah, kalau usaha sudah mulai besar, dan sudah lancar,
baru kita meninggalkan pekerjaan kita sekarang. Karena pada saat baru buka
usaha, anda tetap perlu membiayai Operasional khan ? (Listrik, telpon,
makan,dll). Uangnya bisa dari Gaji Bulanan.

Apakah penghasilan dari tempat kita dapat mencukupi kebutuhan sekeluarga,
atau bahkan ada lebihnya? Kalau cukup atau bahkan ada lebihnya, jangan
mengambil tindakan untuk keluar dari pekerjaan yang sekarang. Karena keadaan
sekarang ini yang sangat di butuh kan adalah penghasilan tetap dulu, setelah
itu baru kalau mau cari tambahan lebih baik. Nah kalau memang ada lebih
dari kebutuhan pokok, dari situ lah bisa kita pergunakan untuk usaha
kecil-kecilan.

Jangan sampai nantinya kalau kita sudah keluar dari pekerjaan dan melakukan
usaha tetapi di tengah jalan macet usahanya. Karena itu penghasilan tetap
itu perlu sebelum kita benar-benar mantap.

Dalam mengambil keputusan harus ditimbang sampai matang Ada nasehat bijak
dari beberapa pakar manajemen, "bukan seberapa besar penghasilan yg kita
dapatkan, tapi seberapa besar yg bisa kita hemat", Apakah langkah
penghematan yg kita lakukan sudah cukup efektif atau belum. Ada baiknya
di-review lagi.

Solusi dan Strategi

Ada beberapa nasihat bijak yg bisa kita terapkan (ingat bukunya Robert T.
Kiyosaki tentang teori kuadran). Nah, mungkin tidak ada salahnya kita mulai
memikirkan soal passive income, bisa jadi karena tuntutan realitas, gaji yg
kita terima justru terasa tidak mencukupi, tapi dengan ada back up dari
passive income, diharapkan kita tidak terburu-buru untuk meninggalkan
pekerjaan kita sekarang. Meninggalkan pekerjaan itu berat lho, apalagi belum
ada kepastian langkah selanjutnya.

Beberapa pertimbangan :
[1]. Coba review lagi langkah-langkah penghematan, ajak istri kita diskusi
intensif, jadikan dia mitra kita, bukan bawahan yg menunggu instruksi kita.
Coba buat 2 kolom, yg satu isi dengan ASSET dan satunya lagi LIABILITIES.
Kolom asset silahkan isi dengan SEMUA ITEM YG MENGHASILKAN UANG KE KANTONG
(misalkan deposito, saham, reksadana dan lain-lain) dan kolom liabilities
silahkan isi dengan SEMUA ITEM YG MENGELUARKAN UANG DARI KANTONG (misalkan
teve, DVD, dan lain sebagainya). Motor kalau dia cuma dipakai, itu masuk
liabilities, karena tiap bulan kita keluar uang buat mengangsur atau biaya
operasional termasuk oli, kecuali kalau motor itu disewakan ke tukang ojek
tiap malam atau sabtu - ahad, bisa masuk asset karena menghasilkan uang.

[2]. Coba rancang PASSIVE INCOME ala Robert T. Kiyosaki. Intinya sambil
menekuni pekerjaan saat ini, tetap menghasilkan uang, sambil tidur pun uang
tetap masuk kantong. Misalkan ikut MLM syariah, menanam modal investasi ke
usaha-usaha yang prospektif (misalkan ada orang yg kita percaya skillnya
juga amanah, dia mau jualan bakso / nasi goreng / pecel lele, kita bisa
bertindak jadi investor( kalau ada uangnya ), sedangkan kalau tidak ada
uangnya, kita bisa jadi manajer investasi= kumpulkan teman atau sahabat kita
yang kelebihan uang, kita atur skema penanaman modal plus hitungan bagi
hasilnya, atau bisa juga fungsi channelling atau makelar, yang tidak perlu
modal karena cukup mempertemukan antara penjual dan pembeli dan kita akan
mendapatkan komisi yang halal.

[3]. Nah, jika sukses, kita punya spare waktu untuk merancang bisnis masa
depan. Apa skill, minat, channel yg kita miliki (investor, kolega,
supplier, konsumen, dan lain sebagainya).

[4]. Banyak-banyak bersyukur dan memantapkan sifat qana'ah kita,
jangan-jangan kita kurang bersyukur dan kurang menerima apa yg Allah
berikan. Syukur dan qana'ah bukan berarti kita berpuas diri dalam situasi
serba tidak cukup, tapi berusaha menjadi better living.

Antara Safir Senduk dan Robert T. Kosiyaki

Ingat bukunya Safir Senduk yang menggugurkan teori Robert T. Kiyosaki yg
menyarankan keluar dari pekerjaan kita sekarang dan beralih ke
bisnis.Sebenarnya ada kesamaan benang merah antara buku-buku Kiyosaki dengan
buku Safir Senduk yakni sama-sama berhemat & sama-sama mengandalkan passive
income, bedanya Safir Senduk lebih bertahan di sisi karyawan sementara
Kiyosaki lebih ekstrem: keluar dari pekerjaan dan fokus di bisnis.

Berdagang ( berwirausaha / wiraswasta )

JIka ingin berdagang, kita petakan dulu segmen pasar kita, kebanyakan kita
cuma sekedar asal berdagang tanpa memikirkan strategi, perlu diingat juga
utk produk-produk yang familiar di masyarakat bahwa market share mereka
cukup ketat berkompetisi, juga bisa dilihat dari life cycle barang tersebut:
apakah barang yang cepat habis terpakai sehingga konsumen kembali mencarinya
bila kehabisan stok? kebanyakan yang beralih ke sembako karena turn over
barang sangat cepat, marjin (keuntungan) tipis tapi dengan volume penjualan
yang meningkat akan menghasilkan uang yang banyak juga.

Ada 3 line business yg tidak pernah sepi peminat, meskipun kondisi ekonomi
lagi tidak stagnan plus resesi: pendidikan, kesehatan dan makanan.

Dalam berbisnis hendaknya membangun network yang terintegrasi ; ber-amal
jama'i dalam bisnis karena kadang berat beban bisnis tidak bisa kita pikul
sendiri, apalagi sambil menekuni pekerjaan utama kita, kendala waktu dan
finansial jadi hambatan pokok, inilah pentingnya kerjasama; ber-ta'awun
dengan rekan bisnis kita sebagai satu tim yang solid. Ingat wasiat ulama
salafus saleh, "jika ingin melihat akhlak seseorang jangan dari
aktifitasnya di masjid, tapi lihat aktifitas bisnisnya"

Allah sebaik-baik pemberi Rezeki

Kita tidak perlu merasa risau dengan rezeki yang Allah janjikan pada
manusia, karena Allahu Khaairan Raaziqin (Sebaik-baiknya pemberi rezeki)
hanya perlu dicatat bahwa kita tidak bisa berpangku tangan dalam menyongsong
rizki yang telah Allah janjikan tersebut, besar - kecil yang akan kita
terima selama ia diperoleh dengan jalan Halal dan Baik, maka Insya Allah
akan menjadi Barokah, daripada besar namun tidak barokah. Penutup

Sebagai penutup, kiranya perlu kita ingat beberapa hal berikut ini :
(1) tolong Agama Allah :
"Hai orang-orang mukmin, JIKA KAMU MENOLONG (AGAMA) Allah, niscaya DIA AKAN
MENOLONGMU dan meneguhkan kedudukanmu." (QS 47:7)

(2) bertaqwa serta tawakkal pada Allah :
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan
keluar_Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan
barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya." (QS.Ath Thalaq :2-3)

(3) jangan khawatir tidak mendapatkan rezki :
"Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya
sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al Ankabuut 29:60)

(4) dan ketika kita sudah meniatkan dengan sungguh-sungguh maka akan datang
cobaan bagi kita :
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?
Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan
bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang
beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah,
sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS 2:214)

Kita tidak bisa menjalani hidup ini dengan hanya menerima
kemudahan-kemudahan saja. Orang-orang bijak berkata, bahwa hidup ini seperti
roda yang berputar. Kadang-kadang di atas, kadang-kadang di bawah. Ketika
kita sedang di bawah, hendaknya kita berusaha dan bersiap-siap, untuk suatu
saat kita sampai di atas. Dan ketika kita sedang di atas, hendaknya kita
juga harus bersiap-siap, karena perjalanan ke depan pasti bergerak ke bawah.

Demikian mudah-mudahan bisa menjadi pemicu semangat kita dalam bekerja dan
berusaha untuk menghidupi keluarga.. Hasbunallaha wa ni'mal wakiil ni'mal
maula wa ni'man Nashiir.

----------------------------------------------------------
tulisan ini bersumber dari masukan, saran dan solusi yang dikemukakan
beberapa narasumber ketika salah seorang miliser mengemukakan beberapa
persoalan dalam bekerja dan berusaha untuk menghidupi keluarga, antara tetap
bekerja di sebuah perusahaan atau hijrah dari perusahaan tersebut dan
berwiraswasta.
semoga bermanfaat bagi kita semua.
Amin ya rabbal alamin, Dikutip dari beberapa sumber

Rabu, 04 Juli 2007

Rabb, Ampunkan hambamu ini

Ya Allah Engkau telah mengizinkan kepadaku untuk berdo’a dan memohon kepada-
Mu, maka dengarkanlah, Wahai Yang Maha Mendengar pujianku, kabulkanlah doa-doaku, Wahai Yang Maha Pengasih, mudahkanlah rintangan-rintanganku, Wahai Yang Maha Pengampun, betapa banyak kesulitan yang Engkau hilangkan, kerisauan yang Engkau sirnakan, rintangan yang Engkau singkirkan, rahmat yang Engkau tebarkan, malapetaka yang Engkau hindarkan.

Ya Allah, sesungguhnya pengampunan-Mu terhadap dosaku, pemberian maaf-Mu atas kesalahanku, pengabaian-Mu dari kezalimanku dan penyembunyian-Mu terhadap perbuatan burukku, menjadikanku antusias untuk memohon kepada-Mu padahal itu tidak pantas bagiku, engkau yang telah memberikan rezeki kepadaku dari rahmat-Mu dan Engkau tampakkan kepadaku kekuasaan-Mu, dan Engkau perkenankan ijabah-Mu, maka karena itu aku berdoa dan memohon kepada-Mu dengan tenang dan yakin, tidak dengan gentar dan takut, aku tunjukkan kepada-Mu apa yang aku inginkan, jika lambat (terkabul nya doaku) aku salahkan Engkau -karena kebodohanku- padahal keterlambatan itulah yang mungkin lebih baik bagiku karena pengetahuan-Mu atas akhir segala urusan, maka aku belum pernah mendapatkan Tuan yang lebih sabar dari-Mu dalam menghadapi hamba yang hina ini.

Ya Rabb, Engkau memanggilku namun aku berpaling dari-Mu, Engkau tampakkan kecintaan kepada-Ku, namun aku tolak dan aku menampakkan kebencian kepada-Mu, seolah-olah Engkaulah yang mengharapkan sesuatu dariku, tetapi semua itu tidak menjadi penghalang bagi-Mu, karena rahmat-Mu, kebaikan-Mu, kedermawanan dan kemurahan-Mu, maka sayangilah hamba-Mu yang bodoh ini, berilah kepadanya karunia-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Karunia dan Maha Mulia.

Segala puji bagi Allah Yang Memiliki Kerajaan, Yang Mengendalikan Alam Jagad, Yang Menundukkan Angin, Yang Membelah Pagi, Yang Membuat Pedoman Hidup, Tuhan Sekalian Alam.

Segala puji bagi Allah Yang Memenuhi panggilanku ketika aku memanggil-Nya, Yang Menutupi setiap aibku padahal aku melanggar-Nya, Yang Memberikan kepadaku nikmat yang besar dan aku tidak membalas-Nya, betapa banyak pemberian yang telah Dia berikan, ketakutan yang besar telah Dia hilangkan dariku, kebahagiaan yang telah Dia tampakkan kepadaku, maka aku memuji-Nya, dan mengingat-Nya dengan bertasbih kepada-Nya. Segala puji bagi Allah yang tidak pernah ditutup pintu-Nya, tidak ditolak pemintanya, dan disia-siakan pengharap-Nya.

Segala puji bagi Allah yang mengamankan orang-orang yang takut, menyelamatkan orang-orang yang saleh, yang mengangkat orang-orang yang lemah, yang menghinakan orang-orang yang sombong, menggulingkan beberapa raja serta menggantikannya pada yang lain. Segala puji bagi Allah Penghancur orang-orang yang sombong, Pemusnah orang-orang yang zalim, Penggapai orang-orang yang lari (kepada-Nya), pemberi balasan terhadap orang –orang yang aniaya, penjawab orang-orang yang berteriak (meminta pertolongan), tempat orang-orang yang memohon hajat, harapan kaum mu’minin.

Ya Allah, apa yang telah Engkau perkenalkan kepada kami dari kebenaran maka kuatkan kami memikulnya, dan apa yang tidak kami ketahui maka sampaikanlah kami kepadanya. Ya Allah, dengan berkahnya satukanlah ketidak-teraturan kami, jauhkanlah perpecahan kami, eratkanlah persahabatan kami, perbanyaklah (jumlah) kami yang sedikit, muliakanlah kehinaan kami, cukupkanlah kekurangan kami, lunasilah hutang-hutang kami,, tutuplah kefaqiran kami, mudahkanlah kesulitan kami, putihkanlah wajah-wajah kami, bebaskanlah tawanan-tawanan kami, tunaikanlah hajat-hajat kami, penuhilah apa-apa yang dijanjikan kepada kami, kabulkanlah doa-doa kami, berilah permintaan kami, sampaikanlah harapan dunia dan akhirat kami, berikanlah kepada kami lebih dari apa yang kami inginkan, Wahai sebaik-baik yang diminta, seluas-luas pemberi, sembuhkanlah dada-dada kami dan padamkanlah gejolak hati-hati kami, berikanlah kami petunjuk terhadap apa yang diperselisihkan dari kebenaran dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada yang dikehendaki pada jalan yang lurus, dan menangkanlah kami atas musuh-musuh-Mu dan musuh-musuh kami, Wahai Tuhan kebenaran. Aamiin.

Rabu, 27 Juni 2007

Doa yang Dijawab Seketika

Di sini, suatu hari Jum'at di masjid ini, persis di atas tempatku berpijak kini, lima belas tahun silam....
Dua hari sudah perut tak terisi. Lapar melilit. Lemas rasanya. Lunglai. Kulit pun serasa lepas dari tulangnya. Ketika berjalan, kedua kaki seperti tak lagi kuat menahan beban tubuh yang lain. Terhuyung. Cenderung pening. Sesekali dunia seperti berputar.
Segala upaya rasanya telah kucoba. Tetapi, nihil. Bagaimanapun, aku hanyalah mahasiswa ingusan yang baru menginjak semester tiga di kampus ini. Bagaimanapun, dua semester pertama adalah masa penyesuaian diri yang luar biasa bagiku. Semestinya aku lebih berkonsentrasi di kampus. Kuliah. Karena jika tidak fokus, dua semester pertama adalah masa kritis, yang jika tidak lulus dengan nilai minimal, DO mengancam.
Namun, sejak semester dua sudah kuputuskan untuk tidak lagi membebani orang tua lebih berat lagi. Biarlah mereka memikirkan ke-8 adikku yang lain, yang juga masih bersekolah. Biarlah aku menghidupi diriku sendiri di Surabaya ini. Akhirnya aku harus bergerak, bekerja, agar bisa kuliah. Tak kurang jualan tiket seminar, mengajar komputer anak-anak SMP, dan mengajar kursus komputer di kampus sudah pernah aku lakukan. Juga membantu mengetik skripsi, membuat program kecil-kecilan. Dan begitulah yang terjadi; akhir semester dua aku dikeluarkan dari Asrama Mahasiswa karena menunggak biaya sewa hingga 3 bulan lamanya.
Akhirnya aku nebeng tinggal di lab komputer jurusanku. Tak bayar sepeserpun. Tapi aku harus tidur di kolong meja komputer, atau di atas kursi berjajar. Seringkali sendirian. Jangan tanya lagi soal mandi, cuci, jemur pakaian.
Dan dua hari telah berselang. Tak sepotong makanan pun masuk ke perutku. Aku tak tahu lagi, apa yang bisa kuperbuat untuk mendapatkan sedikit uang untuk mengisi perut. Meminta bantuan teman, mungkin bisa kulakukan. Tapi, aku tak punya sedikit keberanian.
Maka, selepas salat Jum'at, dalam sebuah sujud salat sunah ini aku bermohon dengan permohonan yang panjang dan lugas, “Ya, Allah. Dua hari hambamu belum menyentuh nasi. Dua hari hambamu bertahan dan rasanya tak kuat lagi. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Hanya kepada-Mu aku bermohon. Berikanlah jalan untuk mendapatkan sedikit dari rizqi-Mu untuk meneruskan hidup ini. Secepat mungkin, Ya Allah. Secepat mungkin.”
Ketika kemudian bangkit dari sujud dan salam, rasanya sekonyong-konyong aku mendengar sebuah panggilan. Panggilan pada diriku.
“Bahtiar!”
Aku menoleh. Terlihat Mas Iwan Syarif, kakak angkatanku di jurusan, mendekatiku dari arah belakang.
“Ya, Mas,” jawabku.
“Kamu bisa bantu temanku mengetik skripsinya? Nggak banyak kok. Paling 70 halaman saja.”
“Ya, Mas!” jawabku seketika. “Bisa! Mana naskahnya?”
Mas Iwan segera mengulurkan segepok tulisan tangan, beberapa rumus, dan gambar-gambar. Aku menerimanya dengan tangan gemetaran.
“Besok insya Allah sudah selesai, Mas.”
Aku langsung tersungkur. Tangisku tak tertahan lagi. Betapa doaku langsung dijawab-Nya. Seketika!
***
Tiga orang pemuda sedang bepergian. Mereka tertahan oleh hujan dan berlindung di dalam gua di sebuah gunung. Sebongkah besar batu tiba-tiba jatuh menutupi mulut gua tersebut. Mereka berkata satu sama lain. "Pikirkanlah kebaikan yang pernah engkau lakukan di jalan Allah dan berdo'alah kepada-Nya dengan kebaikan itu agar Allah membebaskanmu dari kesulitan yang kau hadapi."
Pemuda yang pertama pun melantun do'a, "Ya Allah! Aku memiliki orangtua yang telah renta. Aku juga memiliki anak-anak yang masih kecil. Aku memberikan susu yang aku miliki kepada kedua orangtuaku terlebih dulu sebelum memberikannya kepada anak-anakku. Suatu hari, aku pergi jauh untuk mencari tempat merumput (bagi domba-dombaku) , dan tidak kembali ke rumah hingga larut malam. Aku menemukan kedua orangtuaku sudah terlelap. Aku lalu mengisi persediaan makanan dengan susu seperti biasanya dan membawa bejana susu tersebut serta meletakkannya di atas kepala mereka. Aku tak ingin membangunkan mereka dari tidurnya. Aku pun tidak ingin memberikan susu tersebut kepada anak-anakku sebelum orangtuaku, meski anak-anakku sedang menangis (kelaparan) di bawah kakiku. Maka keadaanku dan mereka tersebut berlanjut sampai dini hari. Ya Allah! Apabila Engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan semata-mata hanya karena Engkau, maka tolong bukakan sebuah lubang agar kami dapat
melihat langit."
Maka Allah membukakan untuk mereka sebuah lubang yang dengannya mereka dapat melihat langit.
Kemudian pemuda yang kedua berdo'a, “Ya Allah! Aku memiliki seorang saudara sepupu yang aku cintai seperti halnya gairah seorang pria mencintai seorang wanita. Aku telah mencoba merayunya tetapi ia menolak kecuali aku membayarnya sebanyak seratus dinar. Maka aku pun bekerja keras sampai dapat mengumpulkan seratus dinar dan aku pergi menemuinya dengan uang itu. Namun ketika aku duduk di antara kedua kakinya, ia berkata: 'Wahai hamba Allah! Takutlah kepada Allah! Jangan merusakku kecuali dengan cara yang sah (dengan perkawinan)! ' Maka aku pun meninggalkannya. Ya Allah! Apabila Engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan demi Engkau semata, maka biarkanlah batu itu bergerak sedikit lagi untuk mendapatkan lubang yang lebih besar.
Maka Allah menggeser batu tersebut hingga terbuka lubang yang lebih besar.
Dan pemuda yang ketiga berkata, "Ya Allah! Aku mempekerjakan seorang budak dengan upah sebanding dengan satu faraq beras. Ketika ia telah selesai dengan tugasnya, ia meminta upah. Namun ketika aku memberikan upah kepadanya, ia menolak untuk menerimanya. Kemudian aku tetap memberikan beras tersebut kepadanya (beberapa kali) hingga aku dapat membeli dengan harga hasil produksi, beberapa ekor sapi dan gembalanya. Setelah itu, budak tersebut datang kepadaku dan berkata: 'Wahai hamba Allah! Takutlah kepada Allah dan jangan berbuat tidak adil kepadaku dan berikanlah upahku.' Aku berkata padanya: 'Pergilah dan ambillah sapi-sapi itu beserta gembalanya.' Maka ia pun mengambilnya dan pergi. Maka, Ya Allah! Apabila Engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan semata-mata demi Engkau, maka geserlah bagian yang tersisa dari batu tersebut."
Maka Allah menggeser lagi batu itu hingga mereka bisa bebas keluar dari gua tersebut.
Doa mereka dijawab seketika karena simpanan kebaikan mereka.
***
Hari ini, Jum'at, di atas tempatku berpijak yang sama, di masjid yang sama ini, lima belas tahun kemudian...
Aku mengenang hari itu. Aku mengenang detik yang menggetarkan dalam perjalanan hidupku itu. Sebuah momen, yang rasanya saat itu Dia begitu dekat denganku. Begitu terasa.
Air mataku berlinangan. Menetes perlahan di sela khutbah Jum'at Pak Daniel M. Rosyid di mimbar depan. Bukan karena Dia serasa begitu dekat denganku, sedekat dulu. Namun justru sebaliknya, rasanya kini akulah yang semakin jauh dari-Nya.
Hingga kini, aku belum pernah bisa mengulang do'a sebagaimana lima belas tahun yang lalu itu. Belum pernah kusetepekur ketika itu. Rasanya betul-betul tak ada tempat bergantung lagi kecuali pada-Nya.
Tak seperti ketiga pemuda di dalam goa itu, barangkali hingga kini aku tak memiliki barang sedikit simpanan kebaikan untuk sekadar bisa mengetuk pintu-Nya.
***

* dikutip dari Tulisan Mas Bahtiar HS, (Karena aku begitu tersentuh dengan tulisan ini)